|
Ternyata tidak semua makanan
jenis Karbohidrat itu menghasilkan gula dalam jumlah yang
sama dalam suatu waktu tertentu ,pengetahuan ini sangat
penting untuk kita agar dapat menyusun menu makanan pada
penderita Diabetes Melitus atau Kencing Manis.
Karena pada prinsipnya menu
makanan pada penderita Diabetes harus diperhatikan agar gula
dara jangan sampai terlalu cepat naik kadarnya dalam darah
yang dapat mengakibatkan timbulnya komplikasi lebih cepat
pada penderita.
Dengan kata lain pada
penderita Diabetes sebaiknya diberikan jenis karbohidrat
dengan nilai Indeks Gula atau Index Glisemik yang rendah ,itu
artinya peningkatan gula darah dalam darah penderita Diabet
akan terjadi secara lambat ,sehingga tidak membahayakan
penyakitnya.
Indeks Gula atau istilah
ilmiahnya adalah indeks glisemik (Glycemic Index) merupakan
karakteristik fisiologis suatu bahan pangan yang dievaluasi
berdasarkan pengaruhnya terhadap peningkatan kadar gula
darah. Sebagai indikator evaluasi, digunakan senyawa glukosa
murni sebagai standar dengan nilai indeks glisemik 100.
Penentuan nilai indeks glisemik suatu bahan pangan
ditentukan berdasarkan perbandingan luar kurva perubahan
kadar glukosa darah hingga 2-3 jam setelah pemberian, antara
bahan pangan tersebut dengan luas kurva glukosa sebagai
standar. Sebagai contoh, bahan pangan dengan luas kurva 90%
dari luas kurva glukosa berarti memiliki nilai indeks
glisemik 90.
Berdasarkan karakteristik nilai indeks glisemiknya, bahan
pangan dikelompokkan menjadi bahan pangan dengan indeks
glisemik tinggi (> 70), indeks glisemik sedang (55-70), dan
indeks glisemik rendah (< 55).
Secara umum, karbohidrat dalam bentuk sederhana yang akan
dimetabolisme oleh enzim-enzim pencernaan secara cepat akan
memiliki nilai indeks glisemik yang tinggi. Sebaliknya,
karbohidrat dalam bentuk kompleks (pati dan oligosakarida)
yang dimetabolisme lebih lambat akan memiliki nilai indeks
glisemik yang rendah. Selain berdasarkan kompleksitasnya,
nilai indeks glisemik diduga dipengaruhi juga oleh
karakteristik karbohidrat lainnya, misalnya kelarutan,
derajat polimerisasi, dan bentuk ikatan polimernya yang
secara tidak langsung menentukan mudah atau tidaknya suatu
karbohidrat terabsorpsi oleh tubuh.
Peluang diaplikasikannya nilai indeks glisemik sebagai
parameter optimasi pada formulasi produk pangan, khususnya
pada penderita diabetes, didasarkan pada hasil penelitian
bahwa nilai indeks glisemik produk pangan campuran tidak
memiliki perbedaan yang nyata dibandingkan nilai kumulatif
indeks glisemik bahan pangan tunggal penyusunnya. Upaya
untuk menentukan nilai indeks glisemik produk pangan dapat
ditentukan secara langsung maupun secara tidak langsung
berdasarkan nilai indeks glisemik bahan pangan tunggal
penyusunnya.
Melalui penggunaan konsep indeks glisemik dapat diupayakan
formulasi suatu produk pangan dengan susunan gizi yang
seimbang (karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan
mineral), tapi memiliki nilai indeks glisemik lebih rendah.
Berdasarkan nilai indeks glisemik yang rendah,
kacang-kacangan (sumber karbohidrat, protein, lemak, dan
vitamin) merupakan bahan baku utama yang sangat potensial
untuk dikembangkan. Upaya fortifikasi tetap diperlukan untuk
melengkapi asam-asam amino, mineral, dan vitamin tertentu
yang secara alamiah terdapat dalam jumlah yang rendah pada
produk kacang-kacangan. Upaya fortifikasi dengan serat
makanan dalam jumlah tertentu juga diperlukan karena selain
efek hipokolesterolemik, serat makanan juga terbukti dapat
menurunkan nilai indeks glisemik suatu produk pangan.
Topik terkait :
- Nilai
Pasokan Gula Bagi Diabetes |